Sebuah studi percontohan yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas King Abdulaziz, Arab Saudi, menyebutkan bekam basah (hijamah) membantu sebagian wanita dengan infertilitas untuk mencapai kehamilan.
Penelitian yang dipimpin Hassan Abduljabbar dan tim dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas King Abdulaziz.
Tim meneliti efektivitas hijamah sebagai terapi komplementer bagi wanita dengan infertilitas faktor wanita.
Infertilitas sendiri didefinisikan sebagai kegagalan untuk hamil setelah satu tahun melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi dan memengaruhi sekitar 10–15 persen pasangan usia reproduktif.
Selama ini, terapi komplementer seperti akupunktur telah lebih dulu diteliti dalam konteks infertilitas.
Beberapa studi menunjukkan akupunktur dapat meningkatkan angka kehamilan dari 26,3 persen menjadi 42,5 persen jika dilakukan sebelum dan sesudah prosedur bayi tabung (IVF).
Meski demikian, penggunaan hijamah untuk pengobatan infertilitas wanita belum banyak diteliti.
Melibatkan 59 Pasien
Studi prospektif ini dilakukan pada September 2013 hingga Agustus 2015 di klinik Pengobatan Nabawi di Arab Saudi.
Sebanyak 59 wanita berusia 20–50 tahun dengan infertilitas faktor wanita direkrut dalam penelitian ini.
Dari jumlah tersebut:
- 52,5 persen mengalami infertilitas primer
- 47,5 persen mengalami infertilitas sekunder
Lama infertilitas berkisar 1 hingga 22 tahun (rata-rata 5,87 tahun)
Sebelum menjalani hijamah, sebagian besar pasien telah mencoba terapi lain, termasuk:
- Induksi ovulasi (76,3%)
- Inseminasi intrauterin (32,2%)
- Laparoskopi untuk endometriosis (8,5%)
- In Vitro Fertilization/bayi tabung (33,9%)
Hijamah dilakukan pada 13 titik tubuh, termasuk bagian belakang kepala, area sudut ginjal, kaki bagian bawah, dan punggung kaki.
Terapi dilakukan pada hari kedua menstruasi dan diulang setiap bulan jika belum terjadi kehamilan.
Hasil: 20,3 Persen Hamil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 dari 59 wanita (20,3 persen) berhasil hamil setelah menjalani hijamah.
Dari jumlah tersebut, tujuh pasien hanya menjalani satu hingga dua sesi terapi, sementara satu pasien menjalani hingga tujuh sesi.
Selain angka kehamilan, peneliti juga mengamati perubahan profil hormon reproduksi.
Ditemukan adanya penurunan signifikan pada kadar hormon LH (p < 0,05) dan FSH (p < 0,001) setelah terapi.
Namun, perubahan pada TSH dan prolaktin tidak signifikan secara statistik.
Dalam pembahasannya, peneliti mengaitkan kemungkinan mekanisme kerja hijamah dengan prinsip yang mirip akupunktur.
Yaitu pengaruh terhadap sumbu hipotalamus hipofisis ovarium serta kemungkinan efek langsung pada rahim.
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi komplementer seperti akupunktur dapat meningkatkan ovulasi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS), bahkan dari 15 persen menjadi 66 persen dalam waktu tiga bulan.
Meski hasilnya dinilai menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih bersifat percontohan dengan jumlah sampel terbatas.
Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih besar dan kelompok kontrol untuk memastikan efektivitas hijamah dalam pengobatan infertilitas.
Dalam laporan internasional itu, penelitian ini tidak menerima pendanaan eksternal dan telah mendapatkan persetujuan dari Komite Etik Institusi.
Peneliti juga menegaskan bahwa tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian yang mengejutkan ini.
Link Jurnal: International Journal of Reproduction, Contraception, Obstetrics and Gynecology