Pasien yang mengalami gangguan glukosa darah (prediabetes, diabetes tipe 1, diabetes tipe 2) bisa segera melakukan bekam gores di Bengkel Manusia Indonesia Batam.
Demikian diungkapkan Grandmaster Oxidant Releasing Therapy Bengkel Manusia Indonesia Yayasan An Nubuwwah Batam, Candra P. Pusponegoro.
Menurutnya, sejak berpraktik di Batam mulai 2005, banyak pasien dengan gangguan gula darah menjadi normal setelah berbekam di tempat praktiknya.
“Dari pengalaman kami, dengan diterapi bekam goresan (bukan tusukan) sebanyak 9 kali kadar gula darah bisa kembali normal,” ujar Candra dalam rilis, Senin (2/3/2026).
Ia mencontohkan beberapa pasien dengan indikasi gula darah tipe 1 dan 2 berangsur-angsur normal kadar gula darahnya.
Sebelumnya, seorang pasien dites gula darahnya 300 mg/dL. Setelah diterapi sebanyak 9 kali, kadar gula darahnya turun hingga 100 mg/dL atau mendekati normal.
“Alhamdulillah sampai sekarang kadar darahnya normal tanpa konsumsi obat atau herbal penurun kadar gula darah,” ujarnya.
Bahkan lanjut dia, selain kadar gula darah yang turun signifikan, kolesterol, asam urat maupun tekanan darah juga turun ke angka normal.
Berapa kali harus dibekam, lanjut dia, terapi setiap pasien beda-beda. Titik-titik bekam juga berbeda. Adapun menurut pengalamannya, penanganan pasien diabetes berbeda-beda.
“Setiap penanganan diabetes berbeda. Diabetes bukan hanya faktor genetikal tapi juga karena pola makan,” ujar pria yang berpraktik sejak 27 tahun lalu.
Gejala Diabetes Melitus
- Berat badan turun
- Luka sulit sembuh
- Haus, sering kencing
- Lapar berlebihan terus
- Lelah kesemutan mati rasa
Penyebab dan Faktor Risiko
- Riwayat keluarga
- Penyebab sesuai jenis
- Obesitas risiko utama
- Kurang aktivitas fisik
- Usia bertambah risiko
- Pola makan tidak sehat
Komplikasi Diabetes
- Gagal ginjal kronis
- Jantung dan stroke
- Infeksi amputasi kaki
- Neuropati kerusakan saraf
- Gangguan penglihatan berat
Jurnal Penelitian Medis
Salah satu pengobatan alamiah menurunkan kadar gula darah dengan bekam sudah dilakukan di Indonesia sejak dulu. Bahkan pengobatan klasik ini menjadi tren yang digemari banyak masyarakat.
Hal ini sejalan dengan salah satu penelitian studi literatur yang dilakukan Maratus Sholiha dari Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas dr. Soebandi Jember, Jawa Timur.
Ia mengungkapkan bahwa terapi bekam efektif dalam membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus.
Penelitian Maratus Sholiha dilakukan sebagai tugas akhir skripsi dengan menelaah sejumlah jurnal ilmiah terkait terapi bekam dan kadar glukosa darah.
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang sering disebut sebagai silent killer karena kerap tidak disadari hingga muncul komplikasi serius.
Penyakit ini terjadi akibat gangguan produksi atau kerja insulin yang menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemia).
Data global menunjukkan jumlah penderita diabetes terus meningkat, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat keempat dunia untuk jumlah kasus terbanyak.
Berbagai komplikasi serius dapat terjadi akibat diabetes, seperti penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan, hingga amputasi.
Oleh karena itu, pengendalian kadar gula darah menjadi langkah utama dalam mencegah komplikasi.
Selain terapi farmakologi, terapi nonfarmakologi seperti bekam mulai banyak diminati karena dinilai lebih minim efek samping dan lebih ekonomis.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode literature review dengan menganalisis lima artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2016 hingga 2022.
Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar menggunakan kata kunci terkait bekam dan kadar gula darah pada penderita diabetes.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kadar gula darah sebelum terapi bekam berada pada kisaran 128,03 mg/dl hingga 183,74 mg/dl.
Setelah dilakukan terapi bekam, kadar gula darah mengalami penurunan dengan kisaran 116,37 mg/dl hingga 176,54 mg/dl.
Secara keseluruhan, seluruh artikel yang ditinjau menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah setelah terapi dilakukan.
Secara teori, terapi bekam bekerja dengan menyetimulasi sirkulasi darah dan membantu suplai nutrisi ke sel-sel beta pankreas yang berperan dalam produksi insulin.
Proses penghisapan dan pengeluaran darah pada terapi bekam juga diyakini dapat membantu mengeluarkan zat sisa metabolisme serta meningkatkan sensitivitas reseptor insulin, sehingga kadar gula darah dapat lebih terkontrol.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi bekam terbukti efektif sebagai terapi pendamping dalam membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus.
Meski demikian, peneliti menyarankan agar pelaksanaan bekam dilakukan dengan teknik dan titik bekam yang tepat serta tetap berada di bawah pengawasan tenaga yang kompeten.